pada masa pemerintahan komunis soviet, di suatu lembaga pendidikan untuk anak-anak. seorang guru wanita memasuki sebuah kelas. setiap hari sang guru selalu menanamkan paham komunisme pada anak-anak didiknya. dan hari itu adalah untuk kesekian kalinya ia memberikan contoh akan paham komunisme.
“coba lihat papan tulis di depan!!!” sang guru memulai pelajarannya. “kalian bisa melihatnya atau tidak?”
“bisaaaaa….” jawab para murid serentak.
“artinya papan tulis itu ada atau tidak??” tanya sang guru.
“adaaaaa….” jawab para murid serentak.
“kalian bisa melihat kapur yg ditangan saya ini atau tidak??” tanya sang guru lagi.
“bisaaaaaa….” jawab para murid serentak.
“berarti kapur ini ada atau tidak??” tanya sang guru sekali lagi.
“adaaaa….” jawab para murid serentak.
“sekarang….” sang guru melanjutkan ” Tuhan….sekarang Tuhan…. Kalian bisa melihatnya atau tidak??”
“tidaaaaakkkk….” jawab para murid serentak.
“jadi…kalo kalian tidak bisa melihatnya… Tuhan itu ada atau tidak??” tanya sang guru dengan suara lantang.
“tidaaaaakkkk….” jawab para murid serentak.
lalu dari bangku paling belakang, Alexey Ridiger salah satu murid di kelas itu, tiba-tiba berteriak “teman-teman, Otak bu guru kelihatan atau tidak??”
“tidaaaaaakkkk….” jawab para murid serentak.
“berarti…. otak bu guru ada atau tidak?” sahut Alexey kembali.
“tidaaaaaakkkk….” jawab para murid serentak.
sang guru lalu marah dan menghukumnya berdiri di lapangan sekolah sambil mengangkat 2 buah ember berisi air.
itulah salah satu cerita masa kecil dari Alexey Ridiger, yang setelah dewasa lebih dikenal denagn sebutan Patriarch Alexius II, pemimpin kristen ortodox di Rusia.
